Searching...

Entri yang Diunggulkan

Paket Bulan Madu Kampung Sampireun 1 Malam 2 Hari

Untuk pasangan suami istri yang ingin melaksanakan Bulan Madu ke Garut akan tetapi hanya mempunyai waktu yang terbatas sehingga agak kerep...

Dokumentasi Paket Honeymoon HdG Garut

Minggu, 23 Agustus 2015

Tips Melaksanakan Bulan Madu Kedua Bersama Anak

Second Honeymoon sering sulit dilaksanakan karena berbagai faktor, selain kesibukan sang suami ataupun si istri yang sama-sama berkerja, kadang yang paling sulit menentukan waktu yang tepat dikala kita sudah mempunyai anak 1,2, 3 ataupun 4 orang anak. 

Untuk anak yang sudah besar mungkin tidak masalah jika ditinggalkan bersama pembantu ataupun dititip di rumah mertua (dosa teu karasa) saat si pasangan melaksanakan Bulan Madu Kedua. Tapi bagaimana jalan keluarnya jika Second Honeymoon ingin dilaksanakan sambil membawa buah hati tercinta? 







Jika anda tidak membawa babby sitter, HDG Team divisi Bulan Madu Garut akan memandu anda untuk melaksanakan hal tersebut, jika ada pertanyaan : "Bulan Madu kok dipandu? kami akan membantu 'mengamankan' anak-anak ada pada beberapa moment ketika dibutuhkan 'waktu berduaan' baik itu disaat Candle Light Dinner, Photo Couple dan pelaksanaan SPA. 

Akan tetapi jika anda ingin merasakan sendiri 'sensasi' membagi waktu dan seni melakukan Second Honeymoon dengan membawa anak, kami akan menyodorkan konsep 'seni mencuri waktu saat berbulan madu bersama keluarga', bahkan untuk sekadar mengambil foto berdua dengan pose romantis saja dibutuhkan timing yang tepat dan teknik pengalihan perhatian yang pas dan menyenangkan dalam 'mengamankan anak-anak'. 

Seperti kita ketahui kadang 'mencuri-curi kesempatan' itu mempunyai kenikmatan tersendiri dibanding waktu yang terlalu bebas dan leluasa. Untuk para perokok, masih ingatkah bagaimana nikmatnya sensasi menghisap sebatang rokok ketika masih belum bebas merokok?








Berbulan Madu Tak Perlu Berdua Melulu

Seberapa perlu dan seberapa lama bulan madu memang tergantung ke masing-masing pasangan. Terlebih bagi pasangan yang perkawinannya mulus-mulus saja. Kalaupun ada riak, mereka bisa menikmati sambil berpikir bahwa mereka bisa mengatasinya. Tapi kalau sudah capek, beban terlalu berat, Adriana dengan tegas menyarankan untuk berbulan madu.

"Soalnya kalau dibiarkan, efeknya juga tidak baik. Si ibu bawaannya marah terus, si bapak jengkel ke anak-anaknya". Lama kelamaan masing-masing pasangan punya dunia sendiri-sendiri. Di sinilah pasangan suami istri harus berpikir jernih bahwa berkeluarga tidak melulu mengurusi anak-anak saja. Perkawinan itu sendiri juga harus ditangani. Tidak bisa bilang mengikuti arus.

Mengenai lama bulan madu, Adriana menyarankan minimal tiga malam. "Kalau ke luar negeri bisa seminggu". Agar bulan madunya sukses, tentu perlu perencanaan dari awal. Cari tempat yang tenang dan nyaman. Ada dua hal penting yang harus diingat dalam hal bulan madu.

Pertama, begitu sampai di tempat, selesaikan urusan di luar bulan madu jika masih ada yang belum beres. Misalnya, suami masih teringat soal pekerjaan yang belum kelar. Bilang ke pasangan bahwa ia butuh sekian jam untuk membereskan pekerjaan. Begitu juga istri, jika ada yang harus dibereskan berkaitan dengan persoalan rumah, bereskan segera. Jika tidak dibereskan dan nanti teringat di tengah acara bulan madu, hal-hal seperti itu bisa membuat jengkel pasangan.







Yang kedua, perjalanan bulan madu harus dibicarakan sebelum berangkat. Kalau ada perbedaan-perbedaan, sedari awal dibicarakan bagaimana solusinya. Misalnya istri suka main di pantai, sedangkan suami senangnya naik gunung. Lalu apakah mau ikut tur atau berangkat sendiri. Perlu juga diingat, jangan paksakan untuk selalu berdua terus. Yang penting masing-masing pasangan bisa menikmati. "Aku enggak bisa kasih patokan yang jelas bagaimana menikmati itu sebab masing-masing orang kan beda-beda dalam hal menikmati. Ada yang sukanya di kamar nonton teve, ada yang pagi-pagi langsung jalan. Ada juga misalnya istri mau spa, sementara suami mau menyelam. Malamnya baru ketemuan (enggak masalah itu). Yang penting diomongin. Sebelum berangkat rencananya apa dan bagaimana. Secara garis besar saja".

Dengan begitu bulan madu tidak melulu berdua. "Jangan selalu dipaksakan. Begitu juga dengan hubungan seks, tidak harus dilakukan setiap kali. Menurut saya kalau pasangan sudah merasa enjoy, maka kedekatan fisik dan psikis akan terjadi dengan sendirinya. Kalau dari awal dipaksakan, bisa-bisa malah ilfil (hilang feeling) nantinya ha....haa.....haaa......".

Soal seks ini memang ada perbedaan antara suami dan istri, pria dan wanita. "Kalau istri kan kondisinya harus enak dulu baru tertarik untuk melakukan aktivitas seksual. Baru deh ayo! Beda dengan suami". Selain itu, Adriana melihat bahwa aktivitas seksual itu luas lingkupnya, tidak terbatas coitus. Ini juga perlu diperhatikan sebab jika berpikiran bahwa bulan madu tujuannya seks seperti itu, takutnya kalau tidak tercapai malah mereka akan merasa gagal bulan madunya.

Oleh sebab itu, lihatlah bulan madu sebagai waktu bersama milik berdua tanpa diganggu orang lain dan masing-masing pasangan bisa saling mencurahkan perhatian. Jika berpendapat begini, maka istri yang memiliki gangguan seperti vaginismus atau suami yang mengalami ejakulasi dini masih bisa berbulan madu. Ada banyak cara untuk memperoleh kepuasan seksual tanpa melakukan sanggama. "Misalnya, sekarang ini kan ada buku yang membahas soal pijat erotis. Nah itu bisa dicoba. Menurut saya itu pun sudah menyenangkan, setidaknya buat istri ya".       



Menjaga bara perkawinan agar tetap menyala memang butuh kiat dan niat. Rutinitas, hubungan yang monoton, waktu berdua yang berkurang bisa menjadi pemercik air yang akan memadamkan bara. Salah satu cara untuk tetap mempertahankan bara api perkawinan itu adalah dengan melakukan bulan madu kedua. Namun ada persyaratannya lho.....          

Adriana Ginanjar, psikolog dan konsultan perkawinan, meyakini bahwa bulan madu kedua memang berguna menjaga kelangsungan bahtera perkawinan yang sudah bertahun-tahun mengarungi sang kala. Namun, master dari Program Terapi Perkawinan dan Keluarga Universitas Purdue, Indiana, Amerika Serikat ini menambahkan, "Tentu ada persyaratannya.Yakni kondisi perkawinan cukup bagus. Dalam arti, kedua pasangan masih cinta dan memiliki komitmen untuk hidup bersama".


Bulan madu kedua menjadi tak bermakna ketika kondisi perkawinan sudah jelek. Dalam kondisi ini, biasanya komunikasi antar suami istri sudah tidak jalan. Beruntung jika mereka memiliki anak, yang bisa menjadi perekat kebersamaan. Misalnya saja jalan bareng ke mall bersama anak-anak. Masing-masing pasangan terlibat komunikasi tapi lebih karena adanya anak-anak. Nah, begitu mereka bulan madu - tanpa kehadiran anak-anak - bisa jadi mereka malah berantem. "Akhirnya, bulan madu kedua tidak menyelesaikan masalah, justru tambah runyam", kata Adriana.


Harus kreatif

Berbeda dengan bulan madu pertama yang masih serba fresh, bulan madu kedua memang digayuti banyak beban. Terlebih kalau sudah memiliki anak yang rata-rata masih sekolah. Juga mereka yang hidup di kota besar macam Jakarta, yang terbelenggu oleh rutinitas pekerjaan. Senin sampai Jumat berkutat dengan pekerjaan. Kemacetan merampas waktu berkumpul bersama keluarga. Akhir pekan pun menjadi waktu 'memanjakan' anak-anak. Alhasil, aktivitas seksual dilakukan sembari mencuri-curi kesempatan.

Oleh sebab itu, Adriana menyarankan agar pasutri kreatif memanfaatkan waktu untuk melakukan bulan madu kedua. Ia juga menegaskan bahwa bulan madu tidak harus dilakukan dengan pergi keluar kota dan memakan waktu yang cukup lama. "Kalau untuk bulan madu seperti itu, menurut saya, lakukan setiap tiga tahun sekali. Tapi kalau semisal ada waktu yang memungkinkan untuk pergi berdua jauh dari urusan keluarga dan anak-anak, ya ambil kesempatan itu".

Adriana lalu memberi contoh dirinya ketika diundang seminar satu atau dua hari keluar kota. "Saya ajak sekalian suami saya", kata istri Agi Ginanjar ini. Jadi tidak harus menunggu waktu khusus dan biaya khusus pula untuk berbulan madu kedua. "Karena semalam dua malam itu beda banget lo. Biasanya lihat anak-anak atau pembantu saja terkadang sebel. Waktu yang pendek itu bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin. Mau ngapain terserah tanpa terbebani apakah si anak sudah makan atau belum, sudah belajar atau belum, dan lain sebagainya".





Mungkin sebagian orang berpikir, sepertinya egois ya meninggalkan anak-anak, sementara kita berdua senang-senang. "Terutama ibu-ibu yang berpikiran gini", ujar Adriana sambil tertawa. Namun Adriana melihat hal ini dari sisi lain. Kegiatan seperti itu bisa dianalogikan seperti mengisi ulang baterai hubungan antar suami istri. "Kalau baterainya cuma seperempat, tentu kita tidak akan bisa menjadi ibu yang baik".

Jadi, memang harus ada waktu-waktu 'egois' untuk berdua, meski porsinya lebih kecil dibandingkan dengan waktu bersama anak-anak. "Saya lebih suka dua malam keluar kota setiap tahun daripada setiap Sabtu ke salon, misalnya. Ke salon kan juga termasuk egois to? Atau arisan. Coba kalau waktu-waktu itu ditotal, jumlahnya akan lebih banyak dibandingkan dengan yang semalam dua malam tadi", Adriana kembali tertawa sambil menambahkan bahwa ia sering melihat banyak ibu-ibu yang nyalon di mall, sementara anak-anaknya diasuh oleh babysitter.






Kalaupun ternyata masih riskan meninggalkan anak yang masih kecil (dan kebetulan orangtua atau mertua tidak tinggal sekota), jangan memaksa bulan madu. Nanti acara bulan madu malah hanya menjadi ajang tangis-tangisan teringat dengan si anak, atau sering mengecek keadaan si anak yang dititipkan ke saudara jauh misalnya.

"Bulan madu itu harusnya dilakukan dengan enjoy tanpa memikirkan urusan-urusan sehari-hari atau urusan kantor. Bulan madu tapi masih membawa laptop, masih menghubungi koleganya, membawa pekerjaan, malah bisa bikin jengkel pasangan".

Bagi mereka yang belum bisa berbulan madu, Adriana menekankan untuk tetap menyisihkan waktu untuk berduaan. Namun jangan hanya makan malam berdua yang cuma satu jam. Bolehlah kalau jalan-jalan berdua, lalu menonton film.

Soalnya kalau hanya makan malam, kadang tidak banyak waktu untuk berdua sebab masih disela dengan pengecekan apakah si anak sudah makan atau sudah tidur. Dengan begitu pergi berdua tidak menimbulkan getaran-getaran baru sebab kepala kita masih teringat rumah.      

Untuk detail konsep dan Tips Melaksanakan Bulan Madu Kedua Bersama Anak-anak bisa langsung mengirimkan email ke paketbulanmadugarut@gmail.com agar anda bisa diberikan gambaran harga dan itinerary serta menyelaraskan antara keinginan dan goal setiap pasangan yang kadang berbeda-beda dari sisi jumlah anak, keperluan detail di lapangan dan destinasi Tempat Wisata Garut yang ingin dipilih.

0 komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

 
Back to top!